Cegah Konflik Sosial, Kasus Penghinaan Suku di Palangga Selatan Diselesaikan secara Adat

752
Anggota DPRD Konsel Erman SE (baju putih pakai kopiah) saat menerima adat penyelesaian penghinaan suku di Palangga Selatan. (FOTO: AKBAR)

BeritaRakyat.id, Konawe Selatan – Penginaan suku melalui media sosial kerap menyinggung perasaan salah satu komunitas atau kelompok tertentu. Namun, untuk mencegah terjadinya konflik sosial, permasalahan seperti itu kerap diselesaikan secara adat sebelum masuk ke ranah hukum.

Cara ini pula dilakukan salah satu Anggota DPRD Konawe Selatan (Konsel)  Sulawesi Tenggara, Erman SE, yang menjadi mediator dalam menyelesaikan penghinaan suku yang  dilakukan warga Kecamatan Palangga Selatan (Palsel) melalui media sosial facebook.

Dengan melibatkan Lembaga Adat Tolaki (LAT), Erman menyelesaikan permasalahan ini menggunakan prosesi adat Pekindoroa. Melalui juru bicara adat atau Tolea Pabitara, oknum yang dianggap melakukan penghinaan terhadap suku Tolaki itu, menyampaikan permohonan maaf kepada sesepuh masyarakat Konsel dan keluarga yang dianggap dilecehkan atau dihina.

“Untuk mencegah adanya konflik sosial di masyarakat, selain pelaporan ke pihak berwajib atas pelaku penghina suku, maka dengan mediasi adat seperti di Suku Tolaki melalui adat Pekindoroa oleh juru bicara adat dan pemuka adat,” ujar Erman kepada media ini, Jumat (16/10/2020).

Baca Juga :  Golkar Koltim Optimis Paslon Tony-Baharuddin Menangkan Pilkada

Anggota DPRD dari Fraksi Golkar itu mengaku, penyelesaian penghinaan suku di Palsel ini, jika tidak segera diselesaikan secara adat atau melalui jalur hukum, akan menimbulkan konflik sosial yang bisa melibatkan antar suku.

“Untuk itu melalui DPP LAT kami melalukan penyelesaian dengan adat,” ungkapnya.

Ditambahkan, dari proses penyelesaian penghinaan suku secara adat itu dapat diterima oleh kedua pihak. Selain itu ada kesepakatan bersama agar pelaku yang melakukan kekhilafan tersebut membuat pernyataan untuk tidak melakukan hal yang sama.

“Alhamdulillah semua berjalan baik dan aman. Harapan kita, dengan penyelesaian melalui adat ini, konflik sosial dapat dicegah dan paling penting ada pembelajaran bahwa menghina salah satu suku akan menimbulkan konflik,” tandasnya.

AKBAR/NURSADAH