Dewan Sebut Bangun RS Tipe D dan Jalan Baru Tidak Tepat Pulihkan Ekonomi

143
Anggota DPRD Kota Kendari La Ode Ashar. (FOTO : ODEK)

BeritaRakyat.id, Kendari – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari melakukan pinjaman dana Rp 348 miliar ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) di 2021 mendatang, untuk pembagunan rumah sakit (RS) tipe D dan Pembagunan jalan serta Jembatan Kembar dinilai tidak tepat sasaran.

Anggota DPRD Kota Kendari, La Ode Ashar menilai dua proyek yang akan dibangun Pemkot Kendari tersebut tidak tepat sasaran untuk memulihkan ekonomi di Kota Lulo yang saat ini sedang dalam kondisi lemah.

“Yang kita persoalkan itu implementasi atau pemanfaatan pinjaman tersebut harus kita kaji lebih dalam. Kalau untuk pembangunan rumah sakit tipe D maupun jalan baru, saya menilai tidak tepat sasaran untuk memulihkan ekonomi,” ucap La Ode Ashar baru-baru ini.

Dana pinjaman yang mencapai ratusan miliar itu, kata dia, baiknya dipergunakan untuk mengembangkan rumah sakit yang ada di Kota Kendari yang masih berstatus tipe C maupun membangun puskesmas atau menambah fasilitasnya.

Ia mencotohkan, Kabupaten Konawe, melakukan pinjaman bukan dalam konteks Covid. Namun, jelas dia, Pemda Konawe bisa membangun rumah sakit tipe B yang sudah terakreditasi menjadi rumah sakit rujukan.

“Kenapa tidak bangun atau kembangkan puskesmas yang ada dan perbesar rumah sakit Kota Kendari menjadi tipe B. Tambah poliklinik, tempat tidurnya, kursinya, perbaiki ruangannya, dan kembangkan bangunannya dari dana pinjaman tersebut,” jelasnya.

Jika saja hal seperti itu yang dilakukan, lanjut Anggota Komisi III DPRD Kota Kendari ini, maka berpotensi menambah PAD. Diakuinya, melakukan membangun rumah sakit baru akan menghasilkan PAD juga, rumah sakit tipe D hanya satu tingkat di atas puskesmas hingga PAD yang dihasilkan akan minim. Terlebih, saat ini pemerintah diwajibkan menggratiskan biaya rumah sakit bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Baca Juga :  Target Pendapatan dan Belanja Pemkot Kendari Menurun di KUA PPAS Tahun 2020

“Potensi PAD di rumah sakit tipe D kecil, karena orang-orang yang masuk berpenghasilan ekonomi ke bawah.
Bandingkan ketika kita tingkatkan rumah sakit yang ada, kalau sudah masuk dan terdaftar sebagai rujukan potensi PAD cukup besar. Karena orang-orang yang masuk di sana bisa dibilang kalangan elit,” urainya.

Sedangkan untuk pembangunan jalan dan jembatan, katanya lagi, tidak akan menyerap tenaga kerja bagi masyarakat Kota Kendari

“Pembangunan jalan dan jembatan ini menelam biaya cukup besar dan tidak mungkin menyerap tenaga kerja di Kota Kendari. Pengerjaannya pasti dilakukan orang-orang dari luar daerah dan pasti dibantu dengan mesin-mesin,” jelasnya.

Harusnya, tambah dia, pemerintah kota menyelesaikan utang-utang pembangunan lama yang belum dituntaskan, ketimbang membangun rumah sakit tipe D, jalan baru dan jembatan.

Sebelumnya, Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir mengatakan, pinjaman dana sebesar Rp 348 miliar tersebut ke PT SMI itu untuk pembagunan rumah sakit dan juga ruas jalan.
Menurutnya, pembagunan RS diprediksi bisa memberikan PAD tiap tahunnya, sedangkan jalan untuk mengatasi masalah macet.

“Rumah Sakit tipe D bisa memberikan sumbangan PAD Rp 20 miliar bahkan Rp 35 miliar per tahunya, sedangkan jalan untuk memecah kemacetan,” ungkapnya.

ODEK/NURSADAH