Tari Lulo Sangia Awali Kegiatan Adat Mosehe Wonua

68
Kelompok wanita suku tolaki saat menggelar tari lulo dalam rangka mengawali kegiatan mosehe wonua (FOTO : YUSRI)

BeritaRakyat.id, Kolaka – Prosesi adat Mosehe Wonua (pensucian negeri) yang akan digelar pada 19 November 2020 di Lapangan Kapita Konggoasa Kabupaten Kolaka, telah diawali dengan kegiatan Tari Lulo Sangia.

Sebelum tari tersebut diperagakan oleh tujuh penari, pihak penyelenggara kegiatan terlebih dahulu memanjatkan doa kepada penguasa alam semesta, Tuhan Yang Maha Kuasa agar kegiatan tersebut mendapatkan rahmat kelancaran.

“Lulo Sangia ini salah satu tari adat. Dahulu tarian ini digelar sebagai ekspresi untuk memohon kepada sang kuasa supaya para raja atau pemimpin diberikan kesehatan atau sembuh kalau sedang sakit. Tari ini digelar sebelum acara Mosehe Wonua,” kata Suryawati Lapotende, mentor Tari Sangia kepada media ini, Jumat (13/11/2020).

Suryawati mengisahkan awal mula Tari Sangia dimulai pada abad XVI era Raja atau Sangia Teporambe.

Diihwalkan, Sangia Teporambe dalam menjalankan pemerintahan Kerajaan Mekongga sempat mengalami sakit yang cukup lama dan tak seorang pun yang dapat menyembuhkan penyakit yang dideritanya.

Suatu ketika seorang Tabib kala itu bermimpi. Ringkasnya, diceritakan dalam mimpi itu bahwa Sangi Teporambe akan sembuh jika dimandikan air laut campur air tawar dan beberapa ramuan yang diambil dari laut dan darat.

Baca Juga :  Gugatan KSP Moeldoko Tidak Punya Legal Standing, Demokrat: Hukum Itu Akal Sehat

Mimpi Tabib tersebut kemudian diceritakan kepada seorang petua kampung yang mendiami Puuehu bernama Wasasi Wasabenggali.

Wasasi Wasabenggali kemudian melanjutkan pesan Tabib itu kepada kerabat Raja Teporambe. Atas petunjuk itu, raja pun siap dimandikan.

“Alhamdulillah, setelah dimandikan selama tujuh hari berturut turut, sang raja akhirnya sembuh dari penyakit yang lama dideritanya,” kisah Suryawati Lapotende.

Sebagai rasa syukur, rakyat Raja Teporambe mengekspresikan kegembiraan itu dengan Tari Lulo Sangia yang dipentaskan selama tujuh hari berturut-turut di antara sebelum shalat lima waktu.

Tarian tersebut dipentaskan tujuh atau sembilan perempuan dengan tujuh model atau gaya yang setiap gerakan memiliki pesan sombolik.

YUSRI/NURSADAH