Tari Sangia Mengawali Prosesi Mosehe Wonua dan Deklarasi Tamalaki Wonua Mekongga

56
Tari Sangia yang diperagakan oleh sanggar seni Sanggoleo (FOTO : YUSRI)

BeritaRakyat.id, Kolaka – Kegiatan Mosehe Wonua (Pensucian Negeri) suku adat Tolaki Mekongga dan Konawe di Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara, Kamis (19/11/2020), di lapangan Kapita Konggoasa Kolaka berlangsung khidmat. Sejumlah sesepuh adat nampak hadir.

Mengawali kegiatan adat tersebut, diadakan tari Lulo Sangia yang diperagakan tujuh Waipode (Gadis) dari sanggar seni Sanggoleo, dengan diawali kegiatan prosesi adat Mosehe Wonua serta Deklarasi Tamalaki Wonua Mekongga.

Sebelum tari penyambutan acara tersebut, terlebih dahulu dilakukan doa kepada sang penguasa alam semesta, terutama kepada Tuhan yang Maha Kuasa untuk mendapatkan rahmat-Nya agar acara Mosehe Sonua dapat terlaksana dengan sukses.

Tarian Lulo tersebut adalah bentuk salah satu tarian adat Sulawesi Tenggara (Sultra), tarian Lulo dahulu adalah bentuk permohonan kepada sang kuasa agar para raja pada saat itu diberikan kesembuhan dari segala penyakit yang dideritanya.

Tarian tersebut mengisahkan awal mula tari sangia, dimulai pada abad XVI era Raja atau Sangia Teporambe. Sangia Teporambe dalam menjalankan pemerintahan Kerajaan Mekongga sempat mengalami sakit yang cukup lama dan tak seorang pun yang dapat menyembuhkan penyakit yang dideritanya.

Suatu ketika seorang tabib kala itu bermimpi, dalam mimpi itu bahwasanya Sangia Teporambe bakal lekas sembuh jika dimandikan air laut campur air tawar dan beberapa ramuan yang diambil dari laut dan darat.

Baca Juga :  Terkait Anggaran, Pemda Konsel "Gali Lubang Tutup Lubang"

Diceritakan, konon sang tabib bermimpi kemudian menceritakan kepada seorang yang disebut Kapala Kambo (Petua Kampung) yang mendiami Puuehu bernama Wasasi Wasabenggali. Wasasi Wasabenggali kemudian melanjutkan pesan tabib itu kepada kerabat Raja Teporambe.

Atas petunjuk tersebut dan Raja pun siap dimandikan sebagai rasa syukur. Rakyat Raja Teporambe pun mengekspresikan kegembiraanya itu dengan dilakukanya tarian Sangia yang dipentaskan selama tujuh hari berturut-turut di antara sebelum salat lima waktu.

”Dan untuk kegiatan Mosehe Wonua ini merupakan kegiatan pencucian negeri Mekongga,” kata Abdillah Sukarkio, Ulu Sala Taawu Mekongga.

Sementara itu, sebelum memasuki area kegiatan, para tamu diwajibkan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan mencuci tangan dan memakai masker. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona sesuai instruksi pemerintah Kabupaten Kolaka. Peserta kegiatan juga dibatasi, di mana hanya petua adat serta pemerintah setempat.

YUSRI/NURSADAH