UMP Sultra 2021 Tak Naik karena Covid-19, Perusahaan Diimbau Patuh

36
Konferensi pers tentang penetapan Upah Minimum Provinsi yang dipimpin Sekda Sultra Hj Nur Endang Abas. (FOTO: ODEK)

BeritaRakyat.id, Kendari – Nilai Upah Minimum Provinsi (UMP) Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk 2021 telah ditetapkan. Nilainya  tak mengalami kenaikan alias sama di 2020.

Dengan demikian, UMP Sultra 2021 ditetapkan senilai Rp 2.552.014,52.., kemudian upah minimum sektoral untuk sektor pertambangan dan penggalian Rp2.614.779,4. Sementara upah minimum untuk sektor konstruksi ditetapkan senilai Rp2.691.794,72.

Sekretaris Daerah (Sekda) Sultra Nur Endang Abbas dalam konferensi pers di Rumah Jabatan Gubernur Sultra, Sabtu (31/10/ 2020), menegaskan bahwa UMP ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Gubernur Sultra Nomor 561/5209 27 Oktober 2020 tentang Penetapan Nilai Upah Minimum tahun 2021 Pada Masa Pandemi Covid-19. Berlaku di seluruh wilayah Sultra terhitung sejak 1 Januari 2021 dan perusahaan diimbau patuh melaksanakannya.

“Kepada seluruh pelaku usaha di wilayah Provinsi Sultra, saya himbau untuk melaksanakan dan menerapkan upah minimum provinsi dan upah minimum sektoral tahun 2021 dengan prinsip keadilan sehingga dapat meningkatkan kehidupan dan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya,” kata Nur Endang.

Ditambahkan, khusus untuk Kota Kendari, Kabupaten Kolaka dan Konawe Utara, upah minimum yang berlaku adalah upah minimum kabupaten/kota yang akan ditetapkan dan diumumkan selambat-lambatnya pada 21 November 2020.

Sebelumnya, dalam laporan pengantarnya, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Sultra LM Ali Haswandi mengemukakan, kementerian ketenagakerjaan terlebih dahulu mengeluarkan Surat Edaran Menteri Nomor M/11/HK.04/X/2020 tentang Penetapan Upah Minimum Tahun 2021 pada Masa Pandemi Covid-19.

Dalam surat edaran menteri tersebut dikemukakan bahwa UMP 2021 tidak dinaikkan dari tahun sebelumnya. Surat edaran inilah yang ditindaklanjuti Pemerintah Provinsi Sultra melalui surat edaran gubernur.

Terdapat sejumlah alasan sehingga pemerintah tidak menaikkan UMP. Pertama, secara nasional pertumbuhan ekonomi saat ini minus 5,32 persen. Kedua, konsumsi masyarakat minus 5,51 persen. Ketiga, investasi turun 8,81 persen. Keempat, belanja pemerintah turun 6,09 persen. Kelima, impor mengalami penurunan sebesar 7,9 persen.

Baca Juga :  Cegah Money Politik Jelang Pilkada, Linmas Diminta Patroli Malam

“Berdasarkan data analisis dari hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS), dampak Covid-19 terhadap pelaku usaha menunjukkan sebanyak 82,85 persen perusahaan cenderung mengalamai penurunan pendapatan,” jelasnya

Selain itu, sebanyak 53,17 persen usaha menengah dan besar serta 62,21 persen usaha mikro dan kecil mengalami kendala keuangan terkait pegawai dan operasional. Kondisi ini menunjukkan, perekonomian nasional mengalami kontraksi yang sangat dalam dan tidak kondusif

Hingga Oktober, berdasarkan data Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Sultra, terdapat 2.351 orang pekerja/buruh yang terdampak Covid-19. Rinciannya, 2.253 pekerja/buruh dirumahkan dan 98 pekerja buruh yang diakhiri hubungan kerjanya atau PHK.

“Atas kondisi tersebut, Pemprov Sultra telah menempuh berbagai langkah, di antaranya memberikan bantuan pangan non tunai dalam bentuk pemenuhan sembako dan alat pelindung diri kepada 2.351 pekerja/buruh,” ungkap Ali Haswandi.

Selanjutnya, merealiisasikan program kartu prakerja bagi pencari kerja, pekerja/buruh yang dirumahkan maupun yang di-PHK sebanyak 83.565 orang atau setara Rp292.477.500.000 sampai dengan Batch 9.

Realisasi bantuan subsidi upah/gaji bagi pekerja/buruh yang berpenghasilan di bawah Rp5 juta- sebanyak 68 ribu orang atau setara Rp 816 miliar sampai dengan Batch 4.

Terakhir, relaksasi iuran jaminan sosial ketenagakerjaan berupa keringanan pembayaran iuran hanya satu persen selama enam bulan untuk program jaminan kecelakaan kerja (JKK), jaminan kematian (JKM), serta program jaminan pensiun.

ODEK/NURSADAH